Program Pemkab Bandung untuk Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga

Berita / 05-Feb-2026




Upaya peningkatan kesejahteraan Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) terus diperkuat Pemerintah Kabupaten Bandung melalui Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A). Program pemberdayaan tersebut diarahkan untuk mendorong kemandirian ekonomi sekaligus meningkatkan kualitas hidup perempuan yang berperan sebagai kepala keluarga.

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan DP2KBP3A Kabupaten Bandung, R. Lidiyawati, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 932 anggota Pekka yang tergabung dalam 81 kelompok yang tersebar di berbagai kecamatan. Menurutnya, kegiatan peningkatan kapasitas bagi kelompok Pekka diselenggarakan secara rutin setiap tahun. “Program ini bertujuan agar perempuan yang memikul tanggung jawab sebagai kepala keluarga memiliki kemampuan untuk mandiri secara ekonomi,” ujar Lidiyawati saat dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (5/2/2026).

Berdasarkan pendataan, sebagian besar anggota Pekka berada pada usia produktif. Tercatat 56.604 jiwa masuk kategori usia kerja, sementara 66.459 jiwa lainnya merupakan lanjut usia di atas 60 tahun. Kelompok usia produktif menjadi sasaran utama dalam berbagai program pelatihan yang disiapkan pemerintah daerah.

Dalam pelaksanaannya, DP2KBP3A mendorong perempuan usia produktif untuk bergabung dalam struktur organisasi Pekka. Melalui wadah tersebut, mereka mendapatkan beragam pelatihan keterampilan, mulai dari pengolahan makanan, pembuatan kue, hingga keterampilan di bidang kecantikan.

Tak hanya berhenti pada pelatihan, dinas terkait juga membantu memfasilitasi pemasaran produk hasil karya kelompok Pekka melalui keikutsertaan dalam berbagai pameran. Lidiyawati menyebutkan bahwa sejak 2022, kelompok Pekka juga telah menerima dana hibah dari Pemerintah Kabupaten Bandung yang penggunaannya terus dipantau secara berkala.

Untuk menunjang keberlanjutan program, DP2KBP3A menjalin kolaborasi dengan lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) serta unsur pentahelix. Kerja sama ini difokuskan pada pemenuhan sarana dan prasarana yang dibutuhkan kelompok Pekka.

“Keterbatasan anggaran untuk pengadaan alat kami atasi dengan berkolaborasi. Ada OPD yang membantu bibit ikan, tanaman, hingga perbaikan rumah. Yang terpenting, perempuan dengan kondisi ekonomi rentan harus memiliki kemauan untuk belajar dan berkembang,” jelasnya.

Secara umum, terdapat tiga program utama yang dijalankan Bidang Pemberdayaan Perempuan DP2KBP3A. Program pertama adalah Pengarusutamaan Gender (PUG) dan Pemberdayaan Perempuan yang menitikberatkan pada pembinaan organisasi perempuan serta sosialisasi program pemerintah. Program kedua berkaitan dengan Perlindungan Perempuan, yang mencakup operasional Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) serta pendampingan bagi penyintas kekerasan.

Sementara itu, program ketiga berfokus pada peningkatan kualitas hidup melalui penguatan kemandirian ekonomi, khususnya bagi perempuan penyintas kekerasan. Ke depan, DP2KBP3A berencana meningkatkan intensitas pendampingan agar para penyintas mampu bangkit, baik secara mental maupun ekonomi, melalui kelompok-kelompok binaan yang telah terbentuk.

 

pic sources: bandung.kompas.com


Program