Berita / 05-Feb-2026
Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti kasus seorang siswa sekolah dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang meninggal dunia akibat bunuh diri karena tidak mampu membeli buku dan alat tulis sekolah. Puan menegaskan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental dan kondisi psikologis anak dalam sistem pendidikan.
"Kasus kematian anak di Kabupaten Ngada tersebut tentunya merupakan duka yang cukup memilukan dan harus menjadi pembelajaran," ujar Puan dalam keterangan tertulis, Rabu (4/2/2026).
Diketahui, siswa kelas IV SD berinisial YBR (10), warga Kecamatan Jerebuu, Ngada, meninggal dunia akibat gantung diri. Peristiwa itu diduga dipicu kekecewaan karena tidak dibelikan buku tulis dan pulpen untuk keperluan sekolah. Sang ibu yang merupakan janda tidak mampu memenuhi kebutuhan tersebut karena kondisi ekonomi yang sangat terbatas.
Menurut Puan, tidak terpenuhinya kebutuhan dasar pendidikan anak merupakan teguran keras bagi negara. Ia menilai, program pendidikan pemerintah tidak cukup hanya berfokus pada sekolah gratis, tetapi juga harus menjamin pemenuhan kebutuhan penunjang belajar bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
“Program pendidikan, terutama beasiswa dan bantuan pendidikan, harus mampu menjawab persoalan seperti ini,” kata Puan.
Ia juga menekankan peran sekolah dalam memahami latar belakang peserta didik.
“Sekolah harus memetakan kondisi sosial ekonomi siswa dan memastikan kebutuhan pendidikan mereka terpenuhi,” lanjutnya.
Selain itu, Puan menyoroti pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental anak. Menurutnya, kasus di NTT menjadi bukti bahwa kondisi psikologis anak sangat memengaruhi perilaku dan keputusan mereka.
“Kesehatan mental anak harus menjadi perhatian serius dalam sistem pendidikan,” ujarnya.
Puan berharap peristiwa ini menjadi titik balik bagi pemerintah dalam mengevaluasi sistem pendidikan nasional agar lebih ramah anak dan memperhatikan kesehatan mental serta psikologi peserta didik secara menyeluruh.
“Pendidikan yang baik harus menciptakan ruang belajar yang aman dan nyaman, serta peka terhadap kondisi personal dan ekonomi siswa,” jelasnya.
Puan juga meminta pemerintah memperkuat jangkauan program bantuan sosial, khususnya di daerah-daerah. Ia menilai kemiskinan menjadi akar persoalan dalam kasus ini.
“Kita harus melihat persoalan di Ngada secara lebih menyeluruh. Kasus ini muncul karena kemiskinan, dan negara harus hadir untuk menghilangkan akar masalah tersebut,” tegas Puan.
Semasa hidup, YBR diketahui tinggal bersama neneknya yang berusia 80 tahun di sebuah pondok kecil yang kondisinya memprihatinkan. Ibunya bekerja sebagai petani dan buruh serabutan untuk menafkahi lima orang anak, sehingga tidak mampu membelikan alat tulis seharga Rp10 ribu yang diminta YBR.
Oleh karena itu, Puan mendorong agar program pendidikan disinergikan dengan program bantuan sosial karena saling berkaitan.
“Jangan sampai ada lagi generasi muda Indonesia yang kehilangan nyawa hanya karena tekanan akibat tidak mampu membeli buku dan pulpen,” tutup Puan.
pic sources: news.detik.com
© by DuniaDataDigital