Hujan Musim Kemarau 2025 Diprediksi Berlangsung hingga Oktober

Berita / 12-Aug-2025




JAKARTA, KOMPAS.TV - Hujan yang masih mengguyur sejumlah wilayah Indonesia saat musim kemarau 2025 diprediksi akan terus berlangsung hingga Oktober mendatang. Kondisi anomali ini perlu diwaspadai karena menyimpang jauh dari pola iklim normal.
Berdasarkan prediksi bulanan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan pada Agustus, September, dan Oktober 2025 diperkirakan tetap berada dalam kategori di atas normal.
 
"Ini mengindikasikan bahwa potensi hujan di musim kemarau akan terus berlangsung hingga Oktober," ujar Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sophaheluwakan dikutip dari Kompas.com, Senin (11/8/2025).
 
Ardhasena menegaskan hujan yang masih terjadi di wilayah yang seharusnya kemarau sebagai anomali iklim yang perlu diwaspadai. Umumnya, Agustus merupakan puncak kemarau di Indonesia bagian selatan seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
 
"Disebut anomali karena menyimpang dari pola iklim normal," tegas Ardhasena.
Namun pada 2025, awal kemarau datang lebih lambat dan durasinya lebih singkat akibat curah hujan yang jauh di atas normal," jelasnya.
 
Melihat tren curah hujan yang tinggi, BMKG memperkirakan musim hujan berpotensi tiba lebih cepat dari biasanya. Prediksi resmi awal musim hujan akan diumumkan pada September mendatang.
 
Salah satu penyebab utama anomali ini adalah melemahnya monsun Australia sejak Maret 2025. Intensitas monsun yang cenderung lebih lemah dari normal berpengaruh signifikan terhadap pola cuaca Indonesia.
Monsun Australia berperan penting membawa massa udara kering dari selatan. Ketika angin yang bertiup melemah, uap air di atmosfer tetap tinggi sehingga awan hujan mudah terbentuk," jelas Ardhasena.
 
Faktor lain yang memperparah kondisi adalah suhu muka laut yang lebih hangat dari rata-rata di sebagian besar perairan Indonesia. Hal ini turut meningkatkan kelembapan udara dan mendorong pertumbuhan awan konvektif yang memicu hujan di sejumlah wilayah.
 
Kondisi ini disebabkan kombinasi dinamika iklim global, faktor atmosfer regional, hingga pengaruh lokal yang saling berinteraksi.
 
Data BMKG menunjukkan baru sekitar 51 persen zona musim di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sudah memasuki kemarau hingga awal Agustus. Angka ini lebih rendah dibandingkan kondisi normal yang seharusnya menunjukkan persentase wilayah kemarau lebih luas.
Adapun puncak kemarau 2025 secara umum tetap diproyeksikan terjadi pada Juli–Agustus, meski beberapa wilayah seperti Sumatra, Jawa bagian barat, Kalimantan Barat, dan Papua mengalaminya lebih awal.

Program